Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Makassar – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) kembali terjadi di sejumlah daerah. Warga harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan Pertalite maupun Biosolar di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Kondisi tersebut dilaporkan terjadi di Bone, Wajo, Makassar, Takalar, Lumajang, Pamekasan hingga Palangka Raya. Di beberapa SPBU, antrean kendaraan bahkan memanjang hingga keluar dari area pengisian.
Di Takalar, Sulawesi Selatan, antrean Pertalite di SPBU Kalabbirang pada Jumat (11/9/2026) mencapai sekitar 500 meter. Panjangnya antrean membuat pengendara harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan BBM. Salah seorang warga, Daeng Rate, yang berusia 80 tahun, datang ke SPBU sejak pukul 05.00 Wita. Namun, hingga sekitar pukul 10.30 Wita, Pertalite belum tersedia.
Daeng Rate mendapat informasi bahwa pasokan Pertalite diperkirakan tiba sekitar pukul 15.00 Wita. Jika pasokan tersebut benar-benar tiba sesuai informasi, ia harus menunggu sekitar 10 jam sejak pertama datang ke SPBU. Puluhan kendaraan masih terlihat berjejer di jalur Pertalite. Sebagian pengendara memilih meninggalkan SPBU karena tidak sanggup menunggu lebih lama.
Antrean BBM yang panjang tidak hanya menyita waktu, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat. Dampaknya paling terasa bagi warga yang menggunakan kendaraan sebagai sarana utama untuk bekerja. Di Makassar, Ahmad (48), seorang pengemudi ojek online, mengaku harus menghabiskan sekitar dua jam untuk mengantre Pertalite. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari orderan justru tersita di SPBU.
“Waktu untuk mencari orderan terpakai untuk antre BBM,” kata Ahmad.
Ia menyebut pendapatannya mengalami penurunan hingga 50 persen, bahkan bisa lebih. Berkurangnya waktu bekerja membuat kesempatan mendapatkan orderan ikut menurun. Kondisi serupa dialami Ahmad Muzakki, seorang sopir pikap di Pamekasan. Ia terpaksa menunggu di sekitar SPBU setelah persediaan Biosolar habis.
Ahmad Muzakki membutuhkan Biosolar untuk mengangkut barang menuju Surabaya. Kelangkaan pasokan membuat aktivitas pengangkutan yang dilakukannya ikut terganggu. Sementara itu, antrean BBM juga terjadi di Lumajang. Kondisi tersebut muncul setelah distribusi BBM menuju Jember mengalami gangguan.
Warga Jember kemudian mencari BBM ke Lumajang dan wilayah sekitarnya. Pemerintah Kabupaten Lumajang menyebut pasokan harian masih tersedia, tetapi peningkatan permintaan membuat antrean muncul di sejumlah SPBU.
Situasi ini menunjukkan persoalan BBM tidak hanya berkaitan dengan jumlah stok. Distribusi serta lonjakan permintaan di wilayah tertentu juga dapat memengaruhi ketersediaan BBM di SPBU.
Panjangnya antrean BBM di Sulawesi Selatan juga beberapa kali memicu keributan. Terbaru, dua pria terlibat perkelahian di SPBU Labuaja, Bone, pada Jumat (11/9/2026). Perselisihan tersebut terjadi ketika keduanya sedang mengantre BBM. Kejadian ini menambah daftar keributan yang muncul di tengah kepadatan antrean SPBU.
Sebelumnya, keributan juga terjadi di SPBU Amessangeng, Wajo, pada Agustus 2026. Saat itu, antrean disebut mencapai sekitar satu kilometer.
Perselisihan antara pengendara dan pegawai SPBU bahkan melibatkan senjata tajam. Di Makassar, perselisihan antar-pengemudi ketika mengantre solar subsidi pada Juli lalu juga berujung pada aksi penikaman.
Pertamina memberikan penjelasan terkait antrean BBM yang terjadi di sejumlah SPBU di Sulawesi Selatan. Pertamina menyebut antrean tersebut bukan disebabkan stok BBM yang habis. Menurut Pertamina, salah satu faktor yang memicu antrean adalah fenomena panic buying. Masyarakat disebut datang ke SPBU secara bersamaan karena khawatir kehabisan BBM.
Namun, pandangan tersebut berbeda dengan pengalaman sejumlah warga di lapangan. Mereka menilai antrean terjadi karena masyarakat memang membutuhkan BBM untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Daeng Bani, seorang pengendara di Gowa, mengatakan dirinya membeli Pertalite untuk bekerja dan bukan untuk menimbun BBM. “Kenapa warga yang disalahkan. Kami cuma mau beli BBM,” katanya.
Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin, Prof Anas Iswanto Anwar, menilai persoalan antrean BBM perlu dilihat dari sisi distribusi. Menurutnya, ketersediaan stok secara total belum tentu menjamin BBM tersedia di SPBU yang membutuhkan pada waktu yang tepat.
Dengan demikian, persoalan antrean tidak hanya berkaitan dengan jumlah BBM yang tersedia. Ketepatan distribusi dan lonjakan permintaan di wilayah tertentu juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Untuk mengurangi antrean, Pertamina menyiapkan sejumlah langkah di wilayah yang mengalami kepadatan. Di Makassar, jumlah SPBU yang beroperasi selama 24 jam ditambah dari sebelumnya 14 unit menjadi 25 unit. Pemerintah Kota Makassar juga menurunkan 30 personel Satpol PP untuk membantu mengatur antrean.
Pertamina menyebut penyaluran BBM ditambah sekitar 10–15 persen di wilayah yang membutuhkan. Pengiriman dari fuel terminal juga dioptimalkan agar pasokan dapat segera disalurkan ke SPBU. Selain itu, petugas ditempatkan di sejumlah SPBU yang mengalami kepadatan. Pengawasan terhadap penyaluran BBM subsidi juga diperketat.
Sebanyak 6.023 nomor polisi kendaraan disebut telah diblokir karena terindikasi melakukan transaksi yang tidak sesuai dengan ketentuan. Pertamina juga mengkaji pembangunan SPBU berskala kecil di wilayah yang memiliki jarak cukup jauh antarlokasi SPBU. Pembangunan tersebut diharapkan dapat mengurangi penumpukan kendaraan di SPBU utama.
Antrean BBM yang masih terjadi di sejumlah daerah menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Kelancaran distribusi dan kecukupan pasokan di tingkat SPBU menjadi hal penting agar warga tidak kembali menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.